BINDU KONAWE - MEDIA INFORMASI

SLOGAN BLOG BINDU KONAWE

<<SELAMAT DATANG DI BINDU KONAWESELAMAT DATANG DI BINDU KONAWE >>

Minggu, 18 Oktober 2020

Ciri-Ciri Zaman Kali (Kali Yuga)

CIRI-CIRI ZAMAN KALI (KALI YUGA) *)
Gbr. Desain Kaliyuga

(Materi Dharma Wacana 
dalam Media Informasi Bindu Konawe)
Oleh : I Nengah Sumendra *)
Om Swastyastu,
Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu,
Om Loka Samastha Purnam Santih Bhavantu,

Umat sedharma dimanapun berada, kembali Bindu Konawe hadir dalam siar ataupun pewartaan ajaran Agama Hindu. Adapun tema yang dapat Bindu Konawe haturkan pada kesempatan ini yaitu : “Ciri-riri Kaliyuga atau sering disebut  dengan zaman Kali”.  

Umat sedharma sebagai Wedantin dan Wedantini, ajaran Agama Hindu, yang menempatkan Weda sebagai Kitab Suci dan sekaligus  mendudukan sebagai hukum tertinggi bagi umat Hindu, maka sepatutnya umat Hindu sedapat mungkin mempedomani prinsip-prinsip dasar dari Agama Hindu yang dianutnya. Prinsip-prinsip dasar yang dimaksud yaitu Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang terkandung dalam kitab suci Weda. Sehingga ekspresi maupun apresiasi yang dilakukan umat Hindu dalam keseharian hidupnya, baik dalam arah gerak pikiran, perkataan dan tindakannya, merupakan sebuah cetusan dharma dan swadharma dari Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang dimilikinya, untuk meningkatkan kualitas hidup dan kelahirannya di dunia ini.

Umat sedharma yang prema santih, sesuai dengan tema yang diangkat pada pewartaan kali ini, maka arah gerak dari ekspresi dan apresiasi atau perhatian kita sebagai umat Hindu, patut diarahkan pula pada ajaran kitab suci Weda khususnya tentang adanya siklus zaman didunia ini seriring dengan perputaran Sang waktu.

Umat sedharma yang budiman, menurut ajaran Agama Hindu, 1 (satu) Mahayuga adalah suatu siklus perkembangan zaman yang terjadi di dunia ini, yang terbagi menjadi empat zaman, yaitu Satyayuga atau Kertayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Keempat zaman tersebut membentuk suatu siklus. Siklus tersebut diawali dengan Satyayuga, menuju Kaliyuga. Satyayuga diyakini sebagai zaman keemasan, dan Kaliyuga diyakini sebagai zaman kehancuran atau kegelapan, hal ini mengandung pesan bahwa pada konteks siklus kelahiran; ‘penciptaan (utpati), pemeliharaan (stiti), peleburan (pralina)’ adalah kesempurnaan siklus dari rta Sang Waktu, maka demikian pula tentang ajaran kebenaran dan kesadaran sebagai umat beragama lambat launpun akan berkurang, seiring bertambahnya umat manusia dan perubahan zaman. Di mana pada akhirnya manusia akan merasa bahwa di suatu masa yang sudah tua, ketika dunia ini renta, ketika kerusakan ataupun degradasi moral dan pergeseran budaya sudah bertambah parah, maka sudah saatnya dilebur kembali sebagai sebuah masa penuaan, kehancuran atau kiamat (pralaya).

Umat sedharma yang budiman, Kaliyuga disebut juga Kalisangara, yaitu sebagai zaman kegelapan, zaman kehancuran, adalah salah satu dari empat siklus yuga. Dari beberapa sumber yang membahas tentang perhitungan siklus Mahayuga, bahwa Kaliyuga dijelaskan berlangsung selama 432.000 tahun. Hidup di zaman Kali adalah hidup yang penuh dengan godaan, karena kekuatan Dharma sudah tidak sebanding dengan kekuatan Adharma, kehidupan telah dipenuhi; pertengkaran, kepalsuan, materialistik, kemunafikan, kebimbangan dan keragu-raguan. Sehingga hidup di zaman Kali diperlukan perjuangan, keteguhan, kemantapan ataupun ketetapan hati, yaitu selalu dapat berjalan dijalan satya dharma. Hanya dengan sraddha bhakti kehadapan Hyang Widhi Wasa satu-satunya cara untuk menjaga kemantapan hati itu.

Umat sedharma yang prema santih, oleh karena itu umat Hindu perlu memahami kewajibannya sebagai manusia yang hidup di zaman Kali termasuk mengetahui dan memahami ciri-ciri dari zaman Kali itu, agar nantinya umat Hindu sebagai Wedantin dan Wedantini punya kesadaran bahwa semuanya ini adalah siklus kehidupan dan perputaran Sang Waktu. Dari proses ‘Mengada (Brahmadiva)’ dan ‘Meniada (Brahmanakta)’, kemudian ‘Mengada’ kembali, adalah proses perputaran Tri Kona Utpati, Stiti dan Pralina semuanya adalah kehendak-Nya, dan kita sebagai umat-Nya tidak akan mampu melawan dari kekuatan hukum (rta) Sang Waktu itu.

Umat sedharma yang prema budiman, zaman Kali dicirikan sebagai zaman pertengkaran, kekacauan, kegelapan, kepalsuan, materialistik, kemunafikan, kebimbangan dan keragu-raguan. Keras dan panasnya kehidupan di zaman Kali berpengaruh terhadap kacaunya segala aspek kehidupan.  Menurut kitab suci Weda, dari beberapa kitab suci-nya seperti diantaranya; Pada kitab Bhagavata Purana, Kitab Wisnu Purana, Kitab Garuda Purana, Kitab Mahabharata (Korawasrama, Mausala Parwa, Vana Parwa), Kitab Nitisastra, Kitab Slokantara, dll, dijelaskan bahwa gambaran atau ciri-ciri dari zaman Kali adalah diantaranya, sbb:

  • Manusia suka bertengkar, malas, sesat, bernasib sial dan selalu resah,
  • Pada zaman Kali ini orang-orang jahat dan gila (tetapi kaya), tegasnya yang jahat dan rusuh itu sumber-sumber kehancuran, mereka menyakiti orang-orang baik.
  • Terjadi peperangan, kekerasan lawan kekerasan dimana-mana.
  • Terjadi kehancuran bagi budhi dan hati orang-orang saleh (pandita).
  • Tidak ada kedamaian hidup, tingkatan pembasmian itu terus memuncak.
  • Semua dharma terbengkalai dan tergeletak di debu tidak dihiraukan.
  • Manusia yang berhati sebaik emas, kemudian menjadi hati semulia perak, lalu merosot lagi senilai tembaga dan akhirnya menjadi sekeras besi yang nilainya jauh lebih rendah dibanding dengan logam-logam lainnya.
  • Dimana-mana terdapat perselisihan, perkelahian, terjadi kekerasan.
  • Segala suasana di jagat ini akan menjadi kekacauan.
  • Pemberian dana dan upacara hanya tinggal namanya saja.
  • Tugas para Brahmana akan dipegang oleh Warna Sudra yang kaya.
  • Warna Sudra akan menjadi makmur kaya.
  • Orang-orang kaya akan bertindak sebagai raja-raja.
  •  Manusia berumur pendek dan tingginya akan berkurang.
  • Perasaan dan penciumannya akan lenyap.
  • Para laki laki akan menjual Kitab Sucinya.
  • Para wanita akan banyak menjual diri.
  •  Hasil susu sapi akan berkurang.
  • Orang-orang akan mati kelaparan.
  • Bunga dan buah akan berkurang hasilnya.
  • Burung gagak akan bertambah.
  • Para Brahmana jadi pengemis.
  • Orang-orang suci jadi pedagang saudagar.
  • Para murid tidak menghormati gurunya.
  • Para Brahmana akan memelihara kuku dan rambut menjadi panjang.
  •  Tidak melaksanakan Catur Warna Asrama secara murni.
  • Hujan akan turun tidak pada musimnya.
  • Terjadi pembunuhan di mana mana.
  •  Para saudagar pedagang menjadi penipu dengan pemalsuan ukuran.
  • Kejujuran akan berkurang dan dosa akan bertambah.
  • Para wanita umur 7-8 tahun akan banyak yang hamil dan pemuda-pemuda kecil jadi ayah.
  • Para remaja 16 tahun rambutnya sudah beruban.
  • Orang Tua seperti anak-anak muda.
  •  Para istri akan berbohong dengan suaminya.
  • Para istri melakukan prostitusi walaupun suaminya masih hidup.
  • Manusia akan kejam seperti binatang akan bertambah dengan membuang bayi aborsi,dll.
  • Para wanita akan menjadi Mukhebhagas, yaitu membiarkan mulutnya dipakai sebagai vulva/alat kelamin.
  • Dharma merosot dan Adharma berkembang subur.
  • Kualitas, moral dan hidup manusia merosot.
  •  Manusia bertabiat Asurik (jahat).
  • Raja, kepala dan pejabat negara bermoral buruk dan rendah.
  • Kekayaan material dan keniknatan indriawi menjadi tujuan hidup.
  • Hukum dan keadilan ditentukan oleh kekuasaan.
  • Perkawinan karena material dan sek berdasarkan prinsip suka sama suka.
  • Segala urusan dan hubungan bisnis berlandaskan tipu-muslihat.
  • Aturan hidup varna-asrama dharma dicampakkan.
  • Kekuasaan dicapai melalui kekuatan.
  • Rakyat menderita karena bencana alam, kelaparan, beban pajak, penyakit dan kecemasan.
  •  Wanita hidup bebas dan tidak suci.
  • Veda dimengerti dengan pola pikir atheistik.
  • Kota-kota dikuasai para bandit.
  • Majikan dan pelayan saling tidak setia.
  • Laki-laki dikendalikan wanita.
  • Orang-orang sudra menipu melalui praktek kerohanian.
  • Manusia menjadi amat individualistik.
  •  Manusia dan alam terkena polusi.
  •  Manusia melalaikan Tuhan karena berwatak atheistik.
  • Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Umat sedharma yang prema santih, begitu keras dan panasnya kehidupan di zaman Kali yang berpengaruh terhadap kacaunya segala aspek kehidupan, namun demikian, atas Cinta Kasih Sayang (Paramaprema) Ida Sanghyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa kepada ciptaannya, terlebih kepada hambaNya ataupun para pemujaNya, Hyang Widhi Wasa menganugrahkan wahyu suciNya kepada hambaNya, yaitu yang berkaitan dengan kewajiban ataupun sadhana yang dapat dilakukan oleh umat manusia sebagai upaya untuk penyucian, penebusan, penyelamatan, pemuliaan, penyatuan dan pembebasan jiwa dari samsara kelahirannya karena pengaruh dari zaman Kali tersebut. Adapun Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana sebagai kewajiban umat manusia di zaman Kali yang dimaksud, diantaranya tersurat dan tersirat dalam sloka-sloka suci Weda sebagai berikut :  


Anye krtayuge dharmastre
tayam dwapere" pare
anye kaliyuge nrrnam
yugahrasanurupatah

Terjemahannya.

Kewajiban manusia di zaman krtayuga berbeda macamnya dan kewajiban-kewajiban yang ditentukan di zaman tretayuda dan di zaman dwapara demikian pula di zaman kaliyuga, sesuai menurut panjangnya masa yang semakin berkurang. (Manawa Dharmasastra,I.85)

Sesungguhnya kewajiban utama manusia pada Kaliyuga adalah: berdana punya sebagaimana dinyatakan dalam kitab Parasara Dharmasastra sebagai berikut:


Tapah Param Krtayuge,
Tretayam Jnananucyate,
Dvapare Yajnamitya,
curddanam Ekam kalau yuge

Terjemahannya:

Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kewajiban pada masa Satyayuga; pengetahuan tentang sang diri (jnana) pada Tretayuga; pelaksanaan upacara kurban keagamaan (yajna) pada masa Dwaparayuga, dan melaksanakan amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga (Parasara Dharmasastra, I,23).

Umat sedharma sebagai Wedantin dan Wedantini, demikilan menurut ajaran Agama Hindu, berkenaan dengan prinsip-prinsip dasar Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang terkandung dalam kitab suci Weda yang mengajarkan tentang suatu siklus perkembangan zaman yang terjadi di dunia ini, yang disebut sebagai siklus Mahayuga. Semoga uraian singkat tentang Ciri-ciri zaman Kali, dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua bahwa zaman Kali begitu sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan saat ini, tak terkecuali mempengaruhi pikiran, perkataan, dan perilaku hidup kita. Dengan berbekal pengetahuan dan pemahaman tentang zaman Kali, dengan menyadari bahwa kita sebagai manusia yang hidup di zaman Kali pula tentunya juga tetap berupaya untuk dapat melakukan penyucian, penebusan, penyelamatan, pemuliaan, penyatuan dan pembebasan jiwa dari samsara kelahirannya karena pengaruh dari zaman Kali tersebut dengan mempedomani kitab suci Weda sebagai sumber ajaran dari Agama Hindu yang kita anut. Akhir kata, semoga bermanfaat, Om Sarvesam Manggalam Bhavantu, Om Sarvesam Purnam Santih Bhavantu.

Om Santih, Santih, Santih Om
Om Subhamastu
Post by Bindu Konawe
Unaaha, 19/10/2020