BINDU KONAWE - MEDIA INFORMASI

SLOGAN BLOG BINDU KONAWE

<<SELAMAT DATANG DI BINDU KONAWESELAMAT DATANG DI BINDU KONAWE >>

Sabtu, 06 Maret 2021

Rapat dan Senam Jantung Sehat DWP Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe

Gbr. Photo
Suasanya Rapat Pengurus dan Anggota DWP
Kantor Kemenag Kab. Konawe
Jumat, 05/03/2021

Unaaha, Bindu Konawe___Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe kembali melaksanakan rapat dijajaran pengurus DWP bersama anggotanya. Acara berlangsung dalam suasana nyantai setelah melaksanakan Senam Jantung Sehat di ruangan tunggu penyambutan tamu Kantor Kemenag Kabupaten Konawe, Jumat, 05/03/2021.

Rapat DWP ini dipandu langsung oleh Asnaningsi Natsir selalu Ketua DWP. Menurut Asnaningsi ada beberapa agenda yang dibahas dalam rapat kali ini diantaranya; hal-hal yang terkait dengan  Bidang Sosial Budaya, Bidang Ekonomi. Pada kesempatan sama juga dibahas tentang kesekretariatan DWP yang harus ditentukan ruangannya, agar DWP dapat merencanakan dan melaksanakan program kerja tahunannya di ruang kesekretariatan, ungkap Asnaningsi.

Gbr. Photo
Senam Jantung Sehat DWP 
Kantor Kemenag Kab. Konawe di Halaman Kantor 

Pembahasan lain seperti jadwal rutin Senam Jantung Sehat, pengadaan baju batik DWP untuk semua pengurus maupun anggota juga dibahas dalam rapat ini. Asnaningsi juga menjelaskan bahwa setiap momen-momen bertemunya pengurus dan anggota perlu dilakukan koordinasi, tidak perlu menunggu jadwal resmi Rapat Kerja DWP, terlebih dalam situasi Pandemi Covid-19 saat ini yang harus membatasi mobilitas maupun kerumunan, sehingga suasana nyantai setelah melaksanakan Senam Jantung Sehat kita juga memanfaatkan momen ini untuk koordinasi singkat, agar kebersamaan pengurus dan anggota DWP terus dapat terjaga dan terpelihara dengan baik, paparnya. Suasana rapat penuh keakraban dan suasana semakin nyantai karena ada hidangan kolak pisang yang dibuat oleh Ketua DWP sendiri. Berikut dokumentasi rapat DWP Kantor Kemenag Kabupaten Konawe yang dimaksud. (INS).

Unaaha, 06/03/2021
Dok. DWP Kantor Kemenag Konawe

Late Post by Bindu Konawe
Media Informasi Penyelenggara Hindu
Kantor Kemenag Kabupaten Konawe

Rabu, 03 Maret 2021

Webinar Nasional DWP Kemenag RI “Membangun Pola Komunikasi yang Efektif dan Menyenangkan antara Orang Tua & Anak”

Webinar Nasional DWP Kemenag RI “Membangun Pola Komunikasi yang Efektif dan Menyenangkan antara Orang Tua & Anak”

Gbr. Photo 
Ketua DWP Kantor Kemenag Kab. Konawe
Asnaningsi Natsir, S.Ag bersama Jajaran Pengurus dan Anggota
Mengikuti Webinar Nasional di Aula Kantor Kemenag Kab. Konawe

Unaaha, Bindu Konawe___Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe Asnaningsi Natsir bersama jajaran pengurus dan anggota secara virtual mengikuti Webinar Nasional DWP Kementerian Agama RI di Aula Kantor Kemenag Kab. Konawe, Rabu, 3/03/2021.

Antosias dan apreasiasi yang penuh semangat dari jajaran pengurus DWP Kantor Kemenag Kab. Konawe terhadap pelaksanaan webinar nasional ini ditandai oleh persiapan dan spanduk webinar nasional yang di pasang tengah-tengah Papan Aula Kantor yang dikordinir langsung oleh Asnaningsi Natsir selaku Ketua DWP-nya.  

Webinar Nasional DWP Kementerian Agama RI kali ini mengusung Tema : “MEMBANGUN POLA KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN ANTARA ORANG TUA & ANAK”.  Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama RI, Hj. Eny Yaqut Cholil terlebih dahulu menyampaikan arahannya kepada semua partisipan DWP se Indinesia sebelum psikolog Elly Risman memaparkan materinya sebagai pembicara ataupun narasumber pada kegiatan ini.

Webinar yang dilaksanakan ini adalah kelanjutan dari webinar yang diselenggarakan pada 12 Januari lalu. Selain untuk peningkatan kapasitas para pengurus DWP dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak dalam rumah tangga, penyelenggaraan webinar ini juga bertujuan agar para pengurus DWP di seluruh Indonesia semakin solid", begitu paparan dari Eny Yaqut Cholil,  Webinar pada pertemuan yang lalu membahas tentang adiksi pornografi pada anak-anak kita, dan hari ini tema sentralnya adalah membangun pola komunikasi yang efektif dan menyenangkan antara orang tua dan anak dalam keluarga, ucapnya.

Gbr. Photo
Suasana Jajaran Pengurus dan Anggota
DWP Kantor Kemenag Kab. Konawe
Saat Menyimak Pemaparan Materi Webinar Nasional
yang dipimpin langsung oleh Penasehat DWP Kemenag RI
bersama Panitia Pelaksana Webinar Nasional Kemenag RI

Sementara itu, psikolog Elly Rizman yang dihadirkan sebagai pembicara pada webinar nasional kali ini mengungkapkan bahwa hal penting yang terkadang dilupakan dalam pengasuhan dan pembinaan kepada anak-anak adalah bagaimana memahami perasaan si anak. "Hindari kebiasaan dalam menjalankan pola asuh anak dengan memerintah, menyalahkan, meremehkan,  membandingkan, mencap, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir serta menganalisa. 12 pola kebiasaan orang tua ini hendaknya mulai diminimalisir", imbuhnya. Dirinya juga menekankan kepada peserta webinar untuk menghilangkan segala macam bentuk adiksi yang terjadi di dalam keluarga; seperti adiksi pornografi, adiksi game online, adiksi kekerasan, dan lain-lain. Melanjutkan materinya, Elly Risman mengimbau pentingnya menerapkan AMA dalam keluarga. "AMA, Anak Mengasuh Anak. Kalau hal ini sudah mulai kita lakukan di dalam keluarga, itu menunjukkan bahwa seluruh komponen keluarga kita telah terlibat di dalam melakukan aktifitas pendidikan", ujarnya. Dipenghujung materinya pada webinar yang juga diikuti oleh Wakil Penasehat DWP Kemenag RI Hj. Halimah Zainud Tauhid bersama Ketua DWP Kemenag RI, Hj. Farikhah Nizar Ali, Psikolog Elly Risman mengatakan bahwa anak-anak yang kita asuh juga sangat membutuhkan penerimaan, pengakuan dan penghargaan dari kita selaku orang tuanya.


Gbr. Photo
Beberapa Materi yang dipaparkan 
oleh Narasumber/Pembicara 
Saat Webinar Nasional berlangsung

Seusai mengikuti Webinar secara virtual di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Konawe, Ketua DWP Kantor Kemenag Kabupaten Konawe Asnaningsi Natsir menyampaikan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, banyak manfaat dan ilmu yang diperoleh dari materi yang disampaikan oleh narasumber. Dia berharap semoga kegiatan seperti ini dapat terulang lagi dengan materi lainnya yang tidak kalah menariknya, walaupun saat ini masih di masa pandemi Covid-19 namun kita tetap dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan melalui sarana teknologi yang ada saat ini, ini seiring dengan semangat DWP Kantor Kemenag Kab. Konawe ‘bersama-sama secara kolektif melangkah maju, sehati dalam tujuan untuk menjadikan DWP sebagai wadah mengkader diri kita menjadi Insan Mandiri. (INS).

Gbr. Photo
Desain Spanduk Webinar Nasional
Oleh Pengurus DWP Kantor Kemenag Kab. Konawe


Unaaha, 04/03/2021
Dok. DWP Kantor Kemenag Konawe
Post by Bindu Konawe
Editor : INS

Jumat, 19 Februari 2021

Kunjungan Kerja PHDI Kabupaten Konawe Masa Bhakti 2020-2025 dan Pembinaan Sesana Kepemangkuan Di Desa Pakraman Gunung Merta, Desa Puasana-Ulubenua, Kecamatan Amonggedo

Gbr. Photo
Para Pamangku dan Umat Hindu di Desa Pakraman Gunung Merta
Saat Kegiatan Pembinaan Sesana Kepemangkuan 
Di Desa Puasana-Ulubenua Kec. Amonggedo

Kunjungan Kerja PHDI Kabupaten Konawe Masa Bhakti 2020-2025 dan Pembinaan Sesana Kepemangkuan Di Desa Pakraman Gunung Merta, Desa Puasana-Ulubenua, Kecamatan Amonggedo

Bindu Konawe___Pengurus PHDI Desa dan Bendesa Pakraman Gunung Merta, Desa Puasana-Ulubenua Kec. Amonggedo menyelenggarakan Kegiatan Pembinaan Sesana Kepemangkuan  di Wantilan/Bale Paruman Pura Desa-Puseh Gunung Merta, Jumat, 19/02/2021.


Gbr. Photo
Photo Bersama Jajaran Pengurus PHDI Desa
dan Bendesa Pakraman Gunung Merta - Desa Puasana-Ulubenua

Kegiatan ini diikuti oleh para pinandita/pamangku, para sutri/sarati dan Umat Hindu di Pakraman Gunung Merta. Acara ini dibuka oleh PHDI Desa Puasana/Ulubenua Bapak I Ketut Loko dimulai dari jam 9.30 tadi sampai selesai. Antosias dan apreasisi yang sangat baik terhadap kegiatan ini di tandai dengan persiapan dari jajaran pengurus PHDI Desa dan Desa Pakraman Gunung Merta, serta dan kehadiran umat yang sejak pukul 07.00 Wita telah berkumpul di Wantilan Pura Desa Puseh Gunung Merta, begitu menurut penyampaian dari Ketua PHDI Desa Puasana/Ulubenua.


Gbr. Photo Suasana Kegiatan Pembinaan Kepemangkuan
di Wantilan/Bale Parumana Pura Desa-Puseh Desa -
Pakraman Gunung Merta
di Desa Puasana-Ulubenua Kec. Amonggedo

Kepala Desa Puasana dan Ulubebua juga hadir dalam kegiatan ini.  Kepala Desa Ulubenua dalam sambutannya sebagai Pemerintah Desa juga sangat mengapresiasi, dan berharap kegiatan pembinaan seperti ini terus berlanjut, dan bukan hanya pada para pemangku saja, tetapi juga melibatkan para sarati banten atau pihak pihak yang terkait dengan suksesnya pelaksanaan sebuah yadnya di Desa Pakraman Gunung Merta, tegas ucapnya.

Gbr. Photo Jajaran Pengurus PHDI Kabupaten Konawe,
Penyelenggara Bimas Hindu dan Pengurus Desa Pakraman Gunung Merta

Kegiatan Sesana Kepemangkuan ini juga dirangkaikan dengan penyambutan Kunjungan Kerja Pengurus PHDI Kabupaten Konawe Masa Bhakti 2020-2025. Ketua PHDI Konawe Ketut Suciko, S.Pd., M.Pd. mengawali sambutannya dengan memperkenalkan jajaran pengurus PHDI Kabupaten Konawe, Ketut Suciko penyampaikan bahwa jajaran Personalia Pengurus PHDI Kabupaten Konawe berbeda dengan pada masa sebelumnya, ini mengacu pada formatur Jajaran Personalia Pengurus PHDI Kabupaten sesuai Ketetapan Maha Sabha PHDI Pusat Tahun 2016, ucapnya. Pada kesempatan yang sama Ketut Suciko tidak lupa untuk mohon doa restu dan support kepada Umat Hindu di Desa Pakraman Gunung Merta, berkaitan dengan tanggung jawab yang diamanahkan kepada Kepngurusan PHDI Kabupaten Konawe masa bhakti-2020-2025 semoga kiranya nanti dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengurus sesuai dengan yang diamanahkan oleh Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe Tahun 2020, harapnya.

Gbr. Photo
Ketua PHDI Kabupaten Konawe Masa Bhakti 2020-2025
Ketut Suciko, S.Pd., M.Pd. Saat Memberikan Sambutan
dalam Kunjungan Kerja PHDI Kabupaten Konawe dan
Pembinaan Sesana Kepemangkuan
di Desa Pakraman Gunung Merta
Desa Puasana-Ulubenua Kec. Amonggedo

Gbr. Photo Saat Penyelenggara Bimas Hindu
I Nengah Sumendra Membawakan Materi 
Sesana Kepemangkuan di Wantilan Pura Desa-Puseh
Desa Pakraman Gunung Merta

Acara puncak Kegiatan Pembinaan Sesana Kepemangkuan ini, dimulai sekitar pukul 10,15 Wita yang dibawakan oleh Penyelanggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H.  Mengawali materinya tentang sesana kepemangkuan Nengah Sumendra secara umum menyampaikan tentang Tattwa, Susila dan Acara sebagai Kerangka Dasar beragama Hindu, ini menjadi hal pokok bagi umat Hindu yang harus dipahami dengan baik agar segala aktivitas agama dan keagamaan Hindu sedapat mungkin dilaksanakan sesuai dengan pilar dari prinsip-prinsip dasar sraddha dan sadhana  dalam bingkai Kerangka Dasar Agama Hindu yang dimaksud. Demikian juga bagi pinandita/pamangku terlebih dalam statusnya sebagai manggala di Desa Pakraman yang memiliki tugas dan fungsi yang sangat suci dan strategis untuk mengantarkan umat Hindu dalam peningkatan Kesucian, Penebusan, Penyelamatan, Pemuliaan dan Penyatuan dalam pendakian spiritualitas baik secara jasmani dan rohani untuk menuju tujuan hidupnya sesuai dengan ajaran Agama Hindu yang dianut dan dipeluknya, tentu ketiga hal pokok itu patut dipahami dengan baik pula, tuturnya.

Nengah Sumendra juga mengapresiasi kegiatan ini, dan menyampaikan bahwa kegiatan di Desa Pakraman Gunung Merta ini dapat menjadi contoh bagi Desa-Desa Pakraman yang lainnya di Kabupaten Konawe. Desa Pakraman Gunung Merta telah memulai dengan semangat yang luar biasa. Atas semangat yang luar biasa itu, Nengah Sumendra mengajak semua yang ada di wantilan untuk bertepuk tangan sebagai wujud apreasi terhadap terlaksananya kegiatan ini, kegiatan yang baik tentu diawali oleh niat dan pikiran yang baik pula, itu artinya bahwa kegiatan ini terlaksana di awali oleh niat dan ide/gagasan yang baik pula, ajaran Tri Kaya Parisudha adalah Dasar Pijakannya.


Gbr. Photo
Suasana Saat Kegiatan Pembinaan Sesana Kepemangkuan
Di Desa Pakraman Gunung Merta
Desa Puasana-Ulubenua Kec. Amonggedo

Kegiatan ini juga dilaksanakan Dharma Tula, namun Dharma Tula tidak berlangsung lama, mengingat waktu sudah menunjukkan Jam 12. 00 Wita, atas pertimbangan waktu, sehingga PHDI Desa Puasana/Ulubenua semua pertanyaan yang kemungkinan belum terjawab atau belum sempat diajukan nanti akan di dharma tulakan pada momen berikutnya. Demikian gambaran singkat kegiatan pembinaan Sesana Kepemangkuan yang diselenggarakan oleh Pengurus PHDI Desa dan Bendesa Pakraman Gunung Merta di Desa Puasana-Ulubenua, Kecamatan Amonggedo Kabupaten Konawe Prov. Sulawesi Tenggara, berikut dokumentasi kegiatan yang tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti penggunaan masker dan mencuci tangan ditempat kegiatan berlangsung. (INS)

Puasana-Ulubenua, 19/02/2021
Post by Bindu Konawe
Media Informasi Penyelenggara Hindu
Kantor Kemenag Kab. Konawe

 


Senin, 08 Februari 2021

Ayo Disiplin Jalankan Protokol Kesehatan, Patuhi 5M

 Ayo Disiplin Jalankan Protokol Kesehatan, Patuhi 5M

Gbr. Photo
Kepala Kantor Kemenag Kab. Konawe &
Ketua DWP Kantor Kemenag Konawe
Drs. H. Muh. Natsir, M.Si. &
Asnaningsi Natsir, S.Ag.

Unaaha,Bindu Konawe___Lebih dari 800 ribu orang di Indonesia sudah terinfeksi virus corona. Jumlah yang meninggal dunia sudah di atas 25 ribu jiwa, dan makin banyak pula bisnis yang kolaps akibat virus mematikan ini, demikian informasi yang telah terpublish dibeberapa media yang ada.

Di sisi lain, masih banyak orang yang melanggar bahkan belum tahu dengan protokol kesehatan terbaru: gerakan 5M COVID. Kebijakan tersebut dibuat pemerintah guna memerangi virus corona yang tampak semakin ganas dari hari ke hari.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia menggalakkan gerakan 3M dan 3T: menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan; dan testing, tracing, treatment, untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Peran pemerintah adalah menggalakkan 3T, sedangkan 3M merupakan peran masyarakat. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2020 melaporkan, 74 persen masyarakat sudah mematuhi hal tersebut.

Namun, kini, kebijakan tersebut telah berubah menjadi 5M dan 3T. Terkait istilah 5M, berikut ini penjabarannya:

1. Memakai Masker; Anda diharapkan untuk memakai masker saat berada di luar rumah, atau ketika berkumpul bersama kerabat di mana pun berada.

2. Mencuci Tangan; Anda mesti mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun secara berkala. Jika tak ada air dan sabun, Anda bisa menggunakan hand sanitizer untuk membersihkan tangan dari kuman-kuman yang menempel.

3. Menjaga Jarak; Jika ada keperluan mendesak yang membuat Anda harus pergi ke luar rumah, ingatlah untuk menjaga jarak satu sama lain. Jarak yang dianjurkan adalah 1 hingga 2 meter dari orang sekitar Anda.

4. Menjauhi Kerumunan; Anda juga diminta untuk menjauhi kerumunan saat berada di luar rumah. Ingat, semakin banyak dan sering Anda bertemu orang, kemungkinan terinfeksi corona bisa semakin tinggi.

5. Mengurangi Mobilitas; Jika tidak ada keperluan yang mendesak, tetaplah berada di rumah. Meski sehat dan tidak ada gejala penyakit, belum tentu Anda pulang ke rumah dengan keadaan yang masih sama.

Gbr. Photo
Ketua DWP Kantor Kemenag Konawe
Asnaningsi Natsir, S.Ag.


Selalu ingat, virus corona bisa menyebar dan menginfeksi seseorang dengan cepat. “Sebenarnya 5M ini ada untuk mendukung 3M. Ini pun (5M) dilakukan untuk membantu mencegah penularan dan penyebaran virus corona di masyarakat,” kata dr. Devia Irine Putri. “(5M) ini berlaku untuk semua kalangan. Tapi, kalau untuk anak di bawah 2 tahun, tidak disarankan pakai masker; tapi bisa digunakan penutup stroller (jika pakai) atau face shield. Tetap harus jaga jarak, serta di bawah pengawasan orang tuanya,” sambungnya.

  • Unaaha, 9/2/2021
  • Post : Bindu Konawe
  • Media Informasi Penyelenggara Hindu
  • Kantor Kemenag Kab. Konawe
  • Sumber : Diambil dari beberapa sumber media

Senin, 28 Desember 2020

Selayang Pandang Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe Tahun 2020

 Selayang Pandang Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe Tahun 2020


Gbr. Photo 
Photo Bersama Wakil Bupati Konawe
Wakil Ketua I DRPD Konawe
Kepala Kantor Kemenag Kab. Konawe
Jajaran PHDI Provinsi Sultra - Ketua PHDI Kab. Konawe
Masa Bhakti 2015-2020 dan Ketua Panitia Pelaksana
dalam Acara Pembukaan Loka Sabha IV
PHDI Kabupaten Konawe

Om Swastyastu,
Om Awignam Astu Namo Sidham.

Unaaha, Bindu Konawe (Media Informasi Penyelenggara Bimas Hindu)---Wakil Bupati Konawe Gusli Topan Sabara menghadiri dan sekaligus memberikan sambutan serta membuka Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe dalam Acara Pembukaan Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe Tahun 2020, yang diselenggarakan di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe, Minggu, 27 Desember 2020.

Gbr. Photo
Pembacaan Sloka

Gbr. Photo
Tarian Penyambutan

Gbr. Photo
I Made Asmaya, S.Pd.
Anggota DPRD Konawe
( Ketua Panitia Pelaksana
Loka Sabha IV PHDI Kab. Konawe )

Wakil Bupati Konawe Gusli Topan Sabara dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan Loka Sabha IV PHDI Kab. Konawe ini, dan berharap dapat melahirkan pengurus-pengurus yang memang benar-benar bersedia untuk bekerja ikhlas dan menjadi pengayom yang handal bagi para umat Hindu dan berkontribusi untuk kemajuan Daerah Konawe yang kita cintai ini, ucapnya.



Gbr. Photo
Bapak Gusli Topan Sabara, ST., M.M.
Wakil Bupati Konawe

Pada Acara Pembukaan Loka Sabha IV PHDI Kab. Konawe, juga di hadiri oleh Wakil Ketua I DPRD Konawe Kadek Rai Sudiani dan Kepala Kantor Kemenag Kab. Konawe H. Ahmad Lita Rendelangi dan sekaligus memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Gbr. Photo 
Ibu Kadek Rai Sudiani
Wakil Ketua I DPRD Konawe


Gbr. Photo
Bapak H. Ahmad Lita R., S.Ag., M.Pd.
Kepala Kantor Kemenag Kab. Konawe
Saat Memberikan Sambutan

Kadek Rai Sudiani dalam sambutannya menyampaikan dengan mengutif tema yang diangkat oleh Panitia Pelaksana Loka Sabha IV yaitu “Melalui Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe Mari Tingkatkan Semangat Moderasi Beragama, Umat Rukun Indonesia Maju. Selamat dan sukses atas terselenggaranya Loka Sabha IV PHDI Kab Konawe. Saya mewakili Umat Hindu Kab. Konawe mengucapkan terimakasih atas perhatian dan support Pemerintah Daerah Konawe selama ini sehingga kami dapat melaksanakan kegiatan dengan sukses, ucapnya.

Gbr. Photo 
Ibu Kadek Rai Sudiani
Wakil Ketua I DPRD Konawe
Saat Memberikan Sambutan

H. Ahmad Lita Rendelangi sebagai Kepala Kantor dalam sambutannya juga menyampaikan apresiasi atas terlaksananya Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe, terlebih dalam berloka sabha menggunakan tempat Aula kantor Kementerian Agama Kab. Konawe ini, tentu sebagai kepala Kantor saya sangat senang, karena memang Kantor Kementerian Agama ini keberadaan dan peruntukannya untuk semua Agama, agar tidak terkesan Kantor Kementerian Agama adalah Kantor Agama Islam, tegas dalam tuturnya.

Gbr. Photo 
Bpk Dr. Eng. I Nyoman Sudiana, S.Pd., M.Si.
Ketua PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara

Ketua PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara I Nyoman Sudiana berserta jajaran pengurus hariannya, hadir tepat waktu dalam Acara Pembukaan Loka Sabha IV PHDI Kab. Konawe.  Kehadiran PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai wujud apresiasi dan dukungan terhadap terlaksananya Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe, dimana PHDI Kabupaten Konawe  secara hirarki ataupun sistem dan struktur keparisadaan PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara, PHDI Kab. Konawe adalah salah satu perpanjangan pelaksanaan Program Kerja PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara di Kabupaten Konawe. Sambutan yang diberikan dan sekaligus melantik Kepengurusan PHDI Kabupaten Konawe Masa Bhakti 2020-2025  yang dilaksanakan oleh I Nyoman Sudiana sebagai Ketua PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara, menjadi tanda bahwa sesuai AD/ART PHDI pelaksanaan Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe telah berjalan dengan baik sesuai ketentuan yang ada dan berjalan lancar dan sukses dengan mengasilkan beberapa keputusan sebagai Hasil Keputusan Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe Tahun 2020 yang nantinya menjadi Dasar Pelaksanaan Program Kerja PHDI Kabupaten Konawe Masa Bhakti 2020-2025 di Kabupaten Konawe.

Gbr. Photo 
Pelantikan Pengurus Harian PHDI Kabupaten Konawe
Masa Bhakti 2020-2025
Oleh Ketua PHDI Provinsi Sulawesi Tenggara

Dalam kesempatan ini, I Nyoman Sudiana mengatakan bahwa sebagai pengayom umat nantinya bisa bersinergi penuh kepada pemerintah dan lembaga terkait sehingga kita semua mampu mewujudkan pembangunan dalam Dharma Agama dan Dharma Negara kedepan dengan lebih baik, lebih rukun dan bersatu.

Di akhir Loka Sabha IV PHDI Kabupaten Konawe ditandai serah terima bendera PHDI sebagai simbol sakral serah terima dari Ketua Pengurus Harian masa bhakti 2015-2020 I Nengah Sumendra yang telah didimisioner kepada Ketua Pengurus Harian PHDI Kabupaten Konawe baru terpilih masa bhakti 2020-2025 Ketut Suciko.

Gbr. Photo 
Serah Terima Kepengurusan Ketua Dimisioner
I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H
Kepada Ketua PHDI Terpilih Masa Bhakti 2020-2025
Ketut Suciko, S.Pd., M.Pd.

Kekompakkan dan semangat jajaran Panitia Pelaksana juga menghiasi bagian dibagian akhir pelaksanaan Loka Sabha IV PHDI Kab. Konawe, Ketua Panitia Pelaksana I Made Asmaya dan Ibu Kadek Rai Sudiani Pribadi sangat setia mensupport sampai dipenghujung kegiatan Loka Sabha ini berakhir.


Gbr. Photo 
Suasana Photo Bersama Panitia dan Dua Tokoh Legislatif
Wakil Ketua I DPRD Konawe dan Anggota DPRD Konawe
( Ibu Kadek rai Sudiani & I Made Asmaya )

Selamat kami ucapkan atas kepada Pengurus Harian PHDI Kabupaten Konawe Masa Bhakti 2020-2025, Semoga Dharma dan Swadharma yang dimandatkan oleh Loka Sabha IV dapat berjalan dengan baik dan sukses. Rahayu.












Om Subhamastu,
Om Sidha Paripurna,
Om Santih, Santih, Santih Om.


Late Post by Bindu Konawe
Dok. Bindu Konawe
Sumber : Panitia Pelaksana

Senin, 07 Desember 2020

Menyambut Loka Sabha IV PHDI Tingkat Kabupaten Konawe Tahun 2020

Menyambut Loka Sabha IV PHDI Tingkat Kabupaten Konawe Tahun 2020

Gbr. Photo
Suasana Rapat Pembentukan Panitia Loka Sabha IV
PHDI Tingkat Kabupaten Konawe Tahun 2020


Bindu Konawe (Media Informasi Penyelenggara Hindu) --- Penyelenggara Hindu Kantor Kemenag Kab. Konawe menghadiri Rapat Lintas Lembaga-Lembaga Hindu Tingkat Kabupaten Konawe yang dilaksanakan di Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Ketua I DPRD Konawe Ibu Kadek Rai Sudiani, Minggu, 06 Desember 2020.

Undangan dalam kegiatan ini, Dua Tokoh Legislatif, Dua Tokoh Kepolisian, Satu Anggota FKUB Konawe (Perwakilan PHDI Kab. Konawe), Delapan Kepala Desa beragama Hindu, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH)  Konawe, Anggota Paruman Walaka, Lembaga-Lembaga Hindu Tingkat Kabupaten Konawe, Seluruh Ketua  PHDI Kecamatan dan Desa dan Ketua Adat Desa Pakraman di 16 Desa Pakraman di Kabupaten Konawe.

I Nengah Sumendra, yang saat ini masih aktif sebagai Ketua PHDI Kabupaten Konawe Masa Bakti 2015-2020 saat memimpin Rapat Pembentukan Pantia Loka Sabha IV PHDI (Majelis Tertinggi Kabupaten Konawe) menyampaikan bahwa pada masa pendemi ini pelaksanaan Loka Sabha IV PHDI Tingkat Kabupaten Konawe akan dilaksanakan di Aula Kantor Kemenag Kab. Kabupaten Konawe dengan berbagai pertimbangan.

Lebih lanjut, untuk menindaklanjuti  tempat pelaksanaan Loka Sabha tersebut, maka seyogianya Panitia Pelaksana (PANPEL) Loka Sabha bersama tokoh yang lainnya agar segera melakukan Audensi ataupun Soan kepada Pemerintah Daerah Kab. Konawe, tak terkecuali kepada Kepala Kantor Kemenag Kab. Konawe, selain untuk menyampaikan permohonan izin penggunaan Aula Kantor sebagai tempat untuk ber-loka sabha, juga sekaligus menyampaikan undangan kegiatan yang akan dilaksanakan kepada Kepala Kantor Kemenag Kab. Konawe.

Gbr. Photo Suasa Rapat Pembentukan 
Panitia Pelaksana Loka Sabha IV PHDI Tingkat Kab. Konawe


Pada kesempatan yang sama, kapasitasnya sebagai Penyelenggara Bimas Hindu di Kabupaten Konawe, dihadapan para pengurus dan lembaga-lembaga Hindu Tingkat Kabupaten Konawe menyampaikan  bahwa di tahun Anggaran 2021, astungkara melalui DIPA Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Konawe akan mensuport Dana Operasional kepada PHDI Kab. Konawe, jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi dapat dimaanfaatkan oleh PHDI Kabupaten Konawe dalam menjalankan Tugas Pokok dan Fungsi sebagai Majelis Tertinggi Agama Hindu di Kabupaten Konawe, ucapnya.

Pada bagian akhir sambutannya, I Nengah Sumendra sebagai Ketua PHDI Kabupaten Konawe menyampaikan selamat kepada I Made Asmaya, S.Pd. (Anggota DPRD Konawe) yang telah terpilih dan diberikan amanah sebagai Ketua Panitia Palaksana Loka Sabha IV PHDI Tingkat Kabupaten Konawe, dan tak lupa juga menyampaikan terimakasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kadek Rai Sudiani (Wakil Ketua I DPRD Konawe) yang telah mensuport dan memfasilitasi terlaksananya agenda kegiatan yang berlangsung saat ini, sebagai awal kegiatan menjelang menyambut agenda lima tahunan PHDI Kabupaten Konawe sebagai Majelis Tertinggi Agama Hindu di Kabupaten Konawe di akhir bulan desember tahun 2020 ini. Berikut dokumentasi kegiatan yang dimaksud.

Dok. Bindu Konawe

Late Post : Bindu Konawe (INS)

 

Minggu, 18 Oktober 2020

Ciri-Ciri Zaman Kali (Kali Yuga)

CIRI-CIRI ZAMAN KALI (KALI YUGA) *)
Gbr. Desain Kaliyuga

(Materi Dharma Wacana 
dalam Media Informasi Bindu Konawe)
Oleh : I Nengah Sumendra *)
Om Swastyastu,
Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu,
Om Loka Samastha Purnam Santih Bhavantu,

Umat sedharma dimanapun berada, kembali Bindu Konawe hadir dalam siar ataupun pewartaan ajaran Agama Hindu. Adapun tema yang dapat Bindu Konawe haturkan pada kesempatan ini yaitu : “Ciri-riri Kaliyuga atau sering disebut  dengan zaman Kali”.  

Umat sedharma sebagai Wedantin dan Wedantini, ajaran Agama Hindu, yang menempatkan Weda sebagai Kitab Suci dan sekaligus  mendudukan sebagai hukum tertinggi bagi umat Hindu, maka sepatutnya umat Hindu sedapat mungkin mempedomani prinsip-prinsip dasar dari Agama Hindu yang dianutnya. Prinsip-prinsip dasar yang dimaksud yaitu Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang terkandung dalam kitab suci Weda. Sehingga ekspresi maupun apresiasi yang dilakukan umat Hindu dalam keseharian hidupnya, baik dalam arah gerak pikiran, perkataan dan tindakannya, merupakan sebuah cetusan dharma dan swadharma dari Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang dimilikinya, untuk meningkatkan kualitas hidup dan kelahirannya di dunia ini.

Umat sedharma yang prema santih, sesuai dengan tema yang diangkat pada pewartaan kali ini, maka arah gerak dari ekspresi dan apresiasi atau perhatian kita sebagai umat Hindu, patut diarahkan pula pada ajaran kitab suci Weda khususnya tentang adanya siklus zaman didunia ini seriring dengan perputaran Sang waktu.

Umat sedharma yang budiman, menurut ajaran Agama Hindu, 1 (satu) Mahayuga adalah suatu siklus perkembangan zaman yang terjadi di dunia ini, yang terbagi menjadi empat zaman, yaitu Satyayuga atau Kertayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Keempat zaman tersebut membentuk suatu siklus. Siklus tersebut diawali dengan Satyayuga, menuju Kaliyuga. Satyayuga diyakini sebagai zaman keemasan, dan Kaliyuga diyakini sebagai zaman kehancuran atau kegelapan, hal ini mengandung pesan bahwa pada konteks siklus kelahiran; ‘penciptaan (utpati), pemeliharaan (stiti), peleburan (pralina)’ adalah kesempurnaan siklus dari rta Sang Waktu, maka demikian pula tentang ajaran kebenaran dan kesadaran sebagai umat beragama lambat launpun akan berkurang, seiring bertambahnya umat manusia dan perubahan zaman. Di mana pada akhirnya manusia akan merasa bahwa di suatu masa yang sudah tua, ketika dunia ini renta, ketika kerusakan ataupun degradasi moral dan pergeseran budaya sudah bertambah parah, maka sudah saatnya dilebur kembali sebagai sebuah masa penuaan, kehancuran atau kiamat (pralaya).

Umat sedharma yang budiman, Kaliyuga disebut juga Kalisangara, yaitu sebagai zaman kegelapan, zaman kehancuran, adalah salah satu dari empat siklus yuga. Dari beberapa sumber yang membahas tentang perhitungan siklus Mahayuga, bahwa Kaliyuga dijelaskan berlangsung selama 432.000 tahun. Hidup di zaman Kali adalah hidup yang penuh dengan godaan, karena kekuatan Dharma sudah tidak sebanding dengan kekuatan Adharma, kehidupan telah dipenuhi; pertengkaran, kepalsuan, materialistik, kemunafikan, kebimbangan dan keragu-raguan. Sehingga hidup di zaman Kali diperlukan perjuangan, keteguhan, kemantapan ataupun ketetapan hati, yaitu selalu dapat berjalan dijalan satya dharma. Hanya dengan sraddha bhakti kehadapan Hyang Widhi Wasa satu-satunya cara untuk menjaga kemantapan hati itu.

Umat sedharma yang prema santih, oleh karena itu umat Hindu perlu memahami kewajibannya sebagai manusia yang hidup di zaman Kali termasuk mengetahui dan memahami ciri-ciri dari zaman Kali itu, agar nantinya umat Hindu sebagai Wedantin dan Wedantini punya kesadaran bahwa semuanya ini adalah siklus kehidupan dan perputaran Sang Waktu. Dari proses ‘Mengada (Brahmadiva)’ dan ‘Meniada (Brahmanakta)’, kemudian ‘Mengada’ kembali, adalah proses perputaran Tri Kona Utpati, Stiti dan Pralina semuanya adalah kehendak-Nya, dan kita sebagai umat-Nya tidak akan mampu melawan dari kekuatan hukum (rta) Sang Waktu itu.

Umat sedharma yang prema budiman, zaman Kali dicirikan sebagai zaman pertengkaran, kekacauan, kegelapan, kepalsuan, materialistik, kemunafikan, kebimbangan dan keragu-raguan. Keras dan panasnya kehidupan di zaman Kali berpengaruh terhadap kacaunya segala aspek kehidupan.  Menurut kitab suci Weda, dari beberapa kitab suci-nya seperti diantaranya; Pada kitab Bhagavata Purana, Kitab Wisnu Purana, Kitab Garuda Purana, Kitab Mahabharata (Korawasrama, Mausala Parwa, Vana Parwa), Kitab Nitisastra, Kitab Slokantara, dll, dijelaskan bahwa gambaran atau ciri-ciri dari zaman Kali adalah diantaranya, sbb:

  • Manusia suka bertengkar, malas, sesat, bernasib sial dan selalu resah,
  • Pada zaman Kali ini orang-orang jahat dan gila (tetapi kaya), tegasnya yang jahat dan rusuh itu sumber-sumber kehancuran, mereka menyakiti orang-orang baik.
  • Terjadi peperangan, kekerasan lawan kekerasan dimana-mana.
  • Terjadi kehancuran bagi budhi dan hati orang-orang saleh (pandita).
  • Tidak ada kedamaian hidup, tingkatan pembasmian itu terus memuncak.
  • Semua dharma terbengkalai dan tergeletak di debu tidak dihiraukan.
  • Manusia yang berhati sebaik emas, kemudian menjadi hati semulia perak, lalu merosot lagi senilai tembaga dan akhirnya menjadi sekeras besi yang nilainya jauh lebih rendah dibanding dengan logam-logam lainnya.
  • Dimana-mana terdapat perselisihan, perkelahian, terjadi kekerasan.
  • Segala suasana di jagat ini akan menjadi kekacauan.
  • Pemberian dana dan upacara hanya tinggal namanya saja.
  • Tugas para Brahmana akan dipegang oleh Warna Sudra yang kaya.
  • Warna Sudra akan menjadi makmur kaya.
  • Orang-orang kaya akan bertindak sebagai raja-raja.
  •  Manusia berumur pendek dan tingginya akan berkurang.
  • Perasaan dan penciumannya akan lenyap.
  • Para laki laki akan menjual Kitab Sucinya.
  • Para wanita akan banyak menjual diri.
  •  Hasil susu sapi akan berkurang.
  • Orang-orang akan mati kelaparan.
  • Bunga dan buah akan berkurang hasilnya.
  • Burung gagak akan bertambah.
  • Para Brahmana jadi pengemis.
  • Orang-orang suci jadi pedagang saudagar.
  • Para murid tidak menghormati gurunya.
  • Para Brahmana akan memelihara kuku dan rambut menjadi panjang.
  •  Tidak melaksanakan Catur Warna Asrama secara murni.
  • Hujan akan turun tidak pada musimnya.
  • Terjadi pembunuhan di mana mana.
  •  Para saudagar pedagang menjadi penipu dengan pemalsuan ukuran.
  • Kejujuran akan berkurang dan dosa akan bertambah.
  • Para wanita umur 7-8 tahun akan banyak yang hamil dan pemuda-pemuda kecil jadi ayah.
  • Para remaja 16 tahun rambutnya sudah beruban.
  • Orang Tua seperti anak-anak muda.
  •  Para istri akan berbohong dengan suaminya.
  • Para istri melakukan prostitusi walaupun suaminya masih hidup.
  • Manusia akan kejam seperti binatang akan bertambah dengan membuang bayi aborsi,dll.
  • Para wanita akan menjadi Mukhebhagas, yaitu membiarkan mulutnya dipakai sebagai vulva/alat kelamin.
  • Dharma merosot dan Adharma berkembang subur.
  • Kualitas, moral dan hidup manusia merosot.
  •  Manusia bertabiat Asurik (jahat).
  • Raja, kepala dan pejabat negara bermoral buruk dan rendah.
  • Kekayaan material dan keniknatan indriawi menjadi tujuan hidup.
  • Hukum dan keadilan ditentukan oleh kekuasaan.
  • Perkawinan karena material dan sek berdasarkan prinsip suka sama suka.
  • Segala urusan dan hubungan bisnis berlandaskan tipu-muslihat.
  • Aturan hidup varna-asrama dharma dicampakkan.
  • Kekuasaan dicapai melalui kekuatan.
  • Rakyat menderita karena bencana alam, kelaparan, beban pajak, penyakit dan kecemasan.
  •  Wanita hidup bebas dan tidak suci.
  • Veda dimengerti dengan pola pikir atheistik.
  • Kota-kota dikuasai para bandit.
  • Majikan dan pelayan saling tidak setia.
  • Laki-laki dikendalikan wanita.
  • Orang-orang sudra menipu melalui praktek kerohanian.
  • Manusia menjadi amat individualistik.
  •  Manusia dan alam terkena polusi.
  •  Manusia melalaikan Tuhan karena berwatak atheistik.
  • Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Umat sedharma yang prema santih, begitu keras dan panasnya kehidupan di zaman Kali yang berpengaruh terhadap kacaunya segala aspek kehidupan, namun demikian, atas Cinta Kasih Sayang (Paramaprema) Ida Sanghyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa kepada ciptaannya, terlebih kepada hambaNya ataupun para pemujaNya, Hyang Widhi Wasa menganugrahkan wahyu suciNya kepada hambaNya, yaitu yang berkaitan dengan kewajiban ataupun sadhana yang dapat dilakukan oleh umat manusia sebagai upaya untuk penyucian, penebusan, penyelamatan, pemuliaan, penyatuan dan pembebasan jiwa dari samsara kelahirannya karena pengaruh dari zaman Kali tersebut. Adapun Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana sebagai kewajiban umat manusia di zaman Kali yang dimaksud, diantaranya tersurat dan tersirat dalam sloka-sloka suci Weda sebagai berikut :  


Anye krtayuge dharmastre
tayam dwapere" pare
anye kaliyuge nrrnam
yugahrasanurupatah

Terjemahannya.

Kewajiban manusia di zaman krtayuga berbeda macamnya dan kewajiban-kewajiban yang ditentukan di zaman tretayuda dan di zaman dwapara demikian pula di zaman kaliyuga, sesuai menurut panjangnya masa yang semakin berkurang. (Manawa Dharmasastra,I.85)

Sesungguhnya kewajiban utama manusia pada Kaliyuga adalah: berdana punya sebagaimana dinyatakan dalam kitab Parasara Dharmasastra sebagai berikut:


Tapah Param Krtayuge,
Tretayam Jnananucyate,
Dvapare Yajnamitya,
curddanam Ekam kalau yuge

Terjemahannya:

Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kewajiban pada masa Satyayuga; pengetahuan tentang sang diri (jnana) pada Tretayuga; pelaksanaan upacara kurban keagamaan (yajna) pada masa Dwaparayuga, dan melaksanakan amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga (Parasara Dharmasastra, I,23).

Umat sedharma sebagai Wedantin dan Wedantini, demikilan menurut ajaran Agama Hindu, berkenaan dengan prinsip-prinsip dasar Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang terkandung dalam kitab suci Weda yang mengajarkan tentang suatu siklus perkembangan zaman yang terjadi di dunia ini, yang disebut sebagai siklus Mahayuga. Semoga uraian singkat tentang Ciri-ciri zaman Kali, dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua bahwa zaman Kali begitu sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan saat ini, tak terkecuali mempengaruhi pikiran, perkataan, dan perilaku hidup kita. Dengan berbekal pengetahuan dan pemahaman tentang zaman Kali, dengan menyadari bahwa kita sebagai manusia yang hidup di zaman Kali pula tentunya juga tetap berupaya untuk dapat melakukan penyucian, penebusan, penyelamatan, pemuliaan, penyatuan dan pembebasan jiwa dari samsara kelahirannya karena pengaruh dari zaman Kali tersebut dengan mempedomani kitab suci Weda sebagai sumber ajaran dari Agama Hindu yang kita anut. Akhir kata, semoga bermanfaat, Om Sarvesam Manggalam Bhavantu, Om Sarvesam Purnam Santih Bhavantu.

Om Santih, Santih, Santih Om
Om Subhamastu
Post by Bindu Konawe
Unaaha, 19/10/2020