CIRI-CIRI ZAMAN KALI (KALI YUGA) *)
 |
| Gbr. Desain Kaliyuga |
(Materi Dharma
Wacana dalam Media Informasi Bindu Konawe)
Oleh : I Nengah
Sumendra *)
Om Swastyastu,
Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu,
Om Loka Samastha Purnam Santih Bhavantu,
Umat
sedharma dimanapun berada, kembali Bindu Konawe hadir dalam siar ataupun
pewartaan ajaran Agama Hindu. Adapun tema yang dapat Bindu Konawe haturkan pada
kesempatan ini yaitu : “Ciri-riri Kaliyuga
atau sering disebut dengan zaman Kali”.
Umat
sedharma sebagai Wedantin dan Wedantini, ajaran Agama
Hindu, yang menempatkan Weda sebagai Kitab Suci dan sekaligus mendudukan sebagai hukum tertinggi bagi umat
Hindu, maka sepatutnya umat Hindu sedapat mungkin mempedomani prinsip-prinsip
dasar dari Agama Hindu yang dianutnya. Prinsip-prinsip dasar yang dimaksud
yaitu Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang terkandung dalam kitab suci Weda. Sehingga ekspresi
maupun apresiasi yang dilakukan umat Hindu dalam keseharian hidupnya, baik
dalam arah gerak pikiran, perkataan dan tindakannya, merupakan sebuah cetusan dharma dan swadharma dari Sraddha,
Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang
dimilikinya, untuk meningkatkan kualitas hidup dan kelahirannya di dunia ini.
Umat
sedharma yang prema santih, sesuai dengan tema yang diangkat pada pewartaan
kali ini, maka arah gerak dari ekspresi dan apresiasi atau perhatian kita
sebagai umat Hindu, patut diarahkan pula pada ajaran kitab suci Weda khususnya tentang
adanya siklus zaman didunia ini seriring dengan perputaran Sang waktu.
Umat
sedharma yang budiman, menurut ajaran Agama Hindu, 1 (satu) Mahayuga adalah suatu siklus perkembangan
zaman yang terjadi di dunia ini, yang terbagi menjadi empat zaman, yaitu Satyayuga atau Kertayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Keempat zaman tersebut membentuk suatu siklus. Siklus
tersebut diawali dengan Satyayuga,
menuju Kaliyuga. Satyayuga diyakini sebagai zaman keemasan, dan Kaliyuga diyakini sebagai zaman kehancuran atau kegelapan, hal ini
mengandung pesan bahwa pada konteks siklus kelahiran; ‘penciptaan (utpati), pemeliharaan (stiti), peleburan (pralina)’ adalah kesempurnaan siklus dari rta Sang Waktu, maka demikian pula tentang ajaran kebenaran dan
kesadaran sebagai umat beragama lambat launpun akan berkurang, seiring
bertambahnya umat manusia dan perubahan zaman. Di mana pada akhirnya manusia
akan merasa bahwa di suatu masa yang sudah tua, ketika dunia ini renta, ketika
kerusakan ataupun degradasi moral dan pergeseran budaya sudah bertambah parah, maka
sudah saatnya dilebur kembali sebagai sebuah masa penuaan, kehancuran atau kiamat
(pralaya).
Umat
sedharma yang budiman,
Kaliyuga disebut juga Kalisangara, yaitu sebagai zaman
kegelapan, zaman kehancuran, adalah salah satu dari empat siklus yuga. Dari beberapa sumber yang membahas
tentang perhitungan siklus Mahayuga, bahwa
Kaliyuga dijelaskan berlangsung
selama 432.000 tahun. Hidup di zaman Kali
adalah hidup yang penuh dengan godaan, karena kekuatan Dharma sudah tidak sebanding dengan kekuatan Adharma, kehidupan telah dipenuhi; pertengkaran, kepalsuan,
materialistik, kemunafikan, kebimbangan dan keragu-raguan. Sehingga hidup di
zaman Kali diperlukan perjuangan,
keteguhan, kemantapan ataupun ketetapan hati, yaitu selalu dapat berjalan dijalan
satya dharma. Hanya dengan sraddha bhakti kehadapan Hyang Widhi
Wasa satu-satunya cara untuk menjaga kemantapan hati itu.
Umat
sedharma yang prema santih, oleh karena itu umat Hindu perlu memahami kewajibannya
sebagai manusia yang hidup di zaman Kali
termasuk mengetahui dan memahami ciri-ciri dari zaman Kali itu, agar nantinya umat Hindu sebagai Wedantin dan Wedantini punya
kesadaran bahwa semuanya ini adalah siklus kehidupan dan perputaran Sang Waktu.
Dari proses ‘Mengada (Brahmadiva)’ dan ‘Meniada (Brahmanakta)’, kemudian ‘Mengada’
kembali, adalah proses perputaran Tri
Kona Utpati, Stiti dan Pralina semuanya
adalah kehendak-Nya, dan kita sebagai umat-Nya tidak akan mampu melawan dari
kekuatan hukum (rta) Sang Waktu itu.
Umat
sedharma yang prema budiman, zaman Kali
dicirikan sebagai zaman pertengkaran, kekacauan, kegelapan, kepalsuan,
materialistik, kemunafikan, kebimbangan dan keragu-raguan. Keras dan panasnya
kehidupan di zaman Kali berpengaruh terhadap
kacaunya segala aspek kehidupan. Menurut
kitab suci Weda, dari beberapa kitab suci-nya seperti diantaranya; Pada kitab Bhagavata Purana, Kitab Wisnu Purana, Kitab Garuda
Purana, Kitab Mahabharata (Korawasrama,
Mausala Parwa, Vana Parwa), Kitab
Nitisastra, Kitab Slokantara,
dll, dijelaskan bahwa gambaran atau ciri-ciri dari zaman Kali adalah diantaranya, sbb:
- Manusia suka bertengkar, malas, sesat, bernasib sial dan selalu resah,
- Pada zaman Kali ini orang-orang jahat dan gila (tetapi kaya), tegasnya yang jahat dan rusuh itu sumber-sumber kehancuran, mereka menyakiti orang-orang baik.
- Terjadi peperangan, kekerasan lawan kekerasan dimana-mana.
- Terjadi kehancuran bagi budhi dan hati orang-orang saleh (pandita).
- Tidak ada kedamaian hidup, tingkatan pembasmian itu terus memuncak.
- Semua dharma terbengkalai dan tergeletak di debu tidak dihiraukan.
- Manusia yang berhati sebaik emas, kemudian menjadi hati semulia perak, lalu merosot lagi senilai tembaga dan akhirnya menjadi sekeras besi yang nilainya jauh lebih rendah dibanding dengan logam-logam lainnya.
- Dimana-mana
terdapat perselisihan, perkelahian, terjadi kekerasan.
- Segala
suasana di jagat ini akan menjadi kekacauan.
- Pemberian
dana dan upacara hanya tinggal namanya saja.
- Tugas
para Brahmana akan dipegang oleh Warna Sudra yang kaya.
- Warna
Sudra akan menjadi makmur kaya.
- Orang-orang
kaya akan bertindak sebagai raja-raja.
- Manusia
berumur pendek dan tingginya akan berkurang.
- Perasaan
dan penciumannya akan lenyap.
- Para
laki laki akan menjual Kitab Sucinya.
- Para
wanita akan banyak menjual diri.
- Hasil
susu sapi akan berkurang.
- Orang-orang
akan mati kelaparan.
- Bunga
dan buah akan berkurang hasilnya.
- Burung
gagak akan bertambah.
- Para
Brahmana jadi pengemis.
- Orang-orang
suci jadi pedagang saudagar.
- Para
murid tidak menghormati gurunya.
- Para
Brahmana akan memelihara kuku dan
rambut menjadi panjang.
- Tidak
melaksanakan Catur Warna Asrama secara
murni.
- Hujan
akan turun tidak pada musimnya.
- Terjadi
pembunuhan di mana mana.
- Para
saudagar pedagang menjadi penipu dengan pemalsuan ukuran.
- Kejujuran
akan berkurang dan dosa akan bertambah.
- Para
wanita umur 7-8 tahun akan banyak yang hamil dan pemuda-pemuda kecil jadi ayah.
- Para
remaja 16 tahun rambutnya sudah beruban.
- Orang
Tua seperti anak-anak muda.
- Para
istri akan berbohong dengan suaminya.
- Para
istri melakukan prostitusi walaupun suaminya masih hidup.
- Manusia
akan kejam seperti binatang akan bertambah dengan membuang bayi aborsi,dll.
- Para
wanita akan menjadi Mukhebhagas,
yaitu membiarkan mulutnya dipakai sebagai vulva/alat
kelamin.
- Dharma
merosot dan Adharma berkembang subur.
- Kualitas,
moral dan hidup manusia merosot.
- Manusia
bertabiat Asurik (jahat).
- Raja,
kepala dan pejabat negara bermoral buruk dan rendah.
- Kekayaan
material dan keniknatan indriawi menjadi tujuan hidup.
- Hukum
dan keadilan ditentukan oleh kekuasaan.
- Perkawinan
karena material dan sek berdasarkan prinsip suka sama suka.
- Segala
urusan dan hubungan bisnis berlandaskan tipu-muslihat.
- Aturan
hidup varna-asrama dharma dicampakkan.
- Kekuasaan
dicapai melalui kekuatan.
- Rakyat
menderita karena bencana alam, kelaparan, beban pajak, penyakit dan kecemasan.
- Wanita
hidup bebas dan tidak suci.
- Veda
dimengerti dengan pola pikir atheistik.
- Kota-kota
dikuasai para bandit.
- Majikan
dan pelayan saling tidak setia.
- Laki-laki
dikendalikan wanita.
- Orang-orang
sudra menipu melalui praktek
kerohanian.
- Manusia
menjadi amat individualistik.
- Manusia
dan alam terkena polusi.
- Manusia
melalaikan Tuhan karena berwatak atheistik.
- Dan
masih banyak lagi yang lainnya.
Umat
sedharma yang prema santih, begitu keras dan panasnya kehidupan di
zaman Kali yang berpengaruh terhadap kacaunya segala aspek kehidupan, namun
demikian, atas Cinta Kasih Sayang (Paramaprema) Ida Sanghyang Widhi Wasa
Tuhan Yang Maha Esa kepada ciptaannya, terlebih kepada hambaNya ataupun para pemujaNya,
Hyang Widhi Wasa menganugrahkan wahyu suciNya kepada hambaNya, yaitu yang
berkaitan dengan kewajiban ataupun sadhana
yang dapat dilakukan oleh umat manusia sebagai upaya untuk penyucian,
penebusan, penyelamatan, pemuliaan, penyatuan dan pembebasan jiwa dari samsara kelahirannya karena pengaruh
dari zaman Kali tersebut. Adapun Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana sebagai kewajiban umat manusia
di zaman Kali yang dimaksud,
diantaranya tersurat dan tersirat dalam sloka-sloka
suci Weda sebagai berikut :
Anye krtayuge dharmastre
tayam dwapere" pare
anye kaliyuge nrrnam
yugahrasanurupatah
Terjemahannya.
Kewajiban manusia di zaman krtayuga berbeda macamnya dan
kewajiban-kewajiban yang ditentukan di zaman tretayuda dan di zaman dwapara
demikian pula di zaman kaliyuga,
sesuai menurut panjangnya masa yang semakin berkurang. (Manawa Dharmasastra,I.85)
Sesungguhnya kewajiban utama manusia
pada Kaliyuga adalah: berdana punya
sebagaimana dinyatakan dalam kitab Parasara
Dharmasastra sebagai berikut:
Tapah Param Krtayuge,
Tretayam Jnananucyate,
Dvapare Yajnamitya,
curddanam Ekam kalau yuge
Terjemahannya:
Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kewajiban pada masa Satyayuga; pengetahuan tentang sang diri
(jnana) pada Tretayuga; pelaksanaan
upacara kurban keagamaan (yajna) pada
masa Dwaparayuga, dan melaksanakan
amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga (Parasara Dharmasastra, I,23).
Umat
sedharma sebagai Wedantin dan Wedantini, demikilan menurut
ajaran Agama Hindu, berkenaan dengan prinsip-prinsip dasar Sraddha, Tattwa, Susila, Acara dan Sadhana yang terkandung dalam kitab suci Weda yang mengajarkan tentang suatu
siklus perkembangan zaman yang terjadi di dunia ini, yang disebut sebagai
siklus Mahayuga. Semoga uraian
singkat tentang Ciri-ciri zaman Kali, dapat menjadi bahan renungan bagi kita
semua bahwa zaman Kali begitu sangat
mempengaruhi segala aspek kehidupan saat ini, tak terkecuali mempengaruhi
pikiran, perkataan, dan perilaku hidup kita. Dengan berbekal pengetahuan dan
pemahaman tentang zaman Kali, dengan
menyadari bahwa kita sebagai manusia yang hidup di zaman Kali pula tentunya juga tetap berupaya untuk dapat melakukan penyucian,
penebusan, penyelamatan, pemuliaan, penyatuan dan pembebasan jiwa dari samsara kelahirannya karena pengaruh
dari zaman Kali tersebut dengan
mempedomani kitab suci Weda sebagai sumber ajaran dari Agama Hindu yang kita
anut. Akhir kata, semoga bermanfaat, Om
Sarvesam Manggalam Bhavantu, Om Sarvesam Purnam Santih Bhavantu.
Om
Santih, Santih, Santih Om
Om Subhamastu
Post by Bindu Konawe
Unaaha,
19/10/2020