BINDU KONAWE - MEDIA INFORMASI

SLOGAN BLOG BINDU KONAWE

<<SELAMAT DATANG DI BINDU KONAWESELAMAT DATANG DI BINDU KONAWE >>

Selasa, 12 Mei 2020

“Merasa Tidak Bahagia Karena Lapar...?” Oleh : I Ketut Puspa Adnyana


Gbr. Ilustrasi
Hanuman saat bersama Ibu Dewi Anjani

Om Swastyastu,
Sri Hanuman, yang ditugasi menjaga orang-orang yang membaca Ramayana, sekalipun tidak pernah mengeluh. Siapapun membaca Ramayana memperoleh dua keuntungan: (1) bebas dari segala dosa dan (2) dijaga oleh Sri Hanuman.

Ketika belajar pada gurunya Dewa Surya, Hanuman sambil terbang di depan kereta dan menghadap sang guru serta mendengarkan ajarannya. Bertanyapun Hanuman tidak pernah, semua pelajaran terserap dengan sempurna. Rasa Lapar dan haus ia tahan sampai menjelang senja, setelah matahari terbenam.

Namun demikian, dalam setiap perbincangan Hanuman berbicara tentang lapar. Ketika kecil, ia terbang menuju Matahari mengira matahari terbit adalah buah yang ranum. “Saya lapar Ibu, saya kira matahari adalah buah yang enak dan segar”. Ketika Hanuman membakar Alengka, dan pamit kepada Dewi Sita, : “Ibu Dewi saya belum makan sejak tiba disini, saya lapar berikanlah saya makanan”. Dewi Sita menginjinkan Hanuman makan semua buah di taman Argasoka dalam komplek Istana Trikota.

Perang sudah selesai, Wibisana dinobatkan menjadi Raja Alengka. Mereka Kembali ke Ayodya, namun singgah di Pegunungan Semeru menemui Dewi Anjani, Ibu Hauman. Hanuman terbang sendiri, Sri Rama dan lainnya naik pesawat Wimana Puspaka sehingga hanuman tiba lebih dulu, setelah menyembah dan menyentuh kaki ibunya, :”Ibu saya lapar”, kata Hanuman kepada ibu kandungnya.

Ya, persoalan hidup manusia adalah lapar. Bila lapar manusia tidak Bahagia.

Sri Hanuman menyindir atau mengingatkan kepada kita bahwa hidup ini tidak jauh dari rasa lapar. Hanuman mengajarkan kepada kita bhawa ada hak untuk makan setelah kewajiban diselesaikan dengan baik. Lapar tidak mengenal usia, pendidikan, jenis kelamin, kasta, status sosial dan strata lainnya.

Lapar seorang pemulung sama dengan lapar seorang sarjana kaya raya.

Lapar seorang raja sama dengan seorang rakyat.

Dalam Manawa Dharmasastra sebagai pedoman hidup kita, menjelaskan tentang makan dan makanan. Makan satwika, makanan rajas dan makanan tamas. Hanuman berbicara tentang lapar.

Adanya permusuhan antara manusia, perkelahian antar binatang, perang antara negara karena LAPAR. Lapar telah menjadi sumber segala hal. Karena itu bagaimana cara yang baik memenuhi rasa lapar? Jawaban yang paling kena adalah makan. Makanlah makanan yang suci (sukla) dalam arti baru dan segar.

Makanan harus menjadi prasadam. lungsuran dengan cara dipersembahkan terlebih dahulu kepada Tuhan. Maka makanan itu akan menghilangkan rasa lapar.

Namun demikian, meskipun sudah dipersembahkan, makanan harus diperoleh dengan cara melakukan dharma. Makanan harus didapat dengan pikiran jernih. Makanan harus diperoleh dengan perkataan baik. Makanan harus didapatkan dengan perbuatan yang baik.
Kalau ingin selamat, jangan pernah makan tanpa ijin.
Karena lapar Anda tidak akan pernah bahagia.
Karena lapar seseorang akan berbuat jahat. Karena Lapar seseorang akan lebih waspada. Karena Lapar seseorang akan menjadi bijaksana.
Laparlah menyebabkan seseorang bahagia. Lapar telah menjadi segala sebab kehidupan manusia.
Om Santih, Santih, Santih
(Kendari, 13.05.2020/5:07).

Unaaha, 13 Mei 2020
Post by Bindu Konawe (INS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar