BINDU KONAWE - MEDIA INFORMASI

SLOGAN BLOG BINDU KONAWE

<<SELAMAT DATANG DI BINDU KONAWESELAMAT DATANG DI BINDU KONAWE >>

Sabtu, 12 September 2020

Untuk Selamat dan Bahagia, Sebutlah Nama Tuhan


Untuk Selamat dan Bahagia, Sebutlah Nama Tuhan
Oleh : Puspajyothi
 
Gbr. Desain Cover
Bija Kasawur Puspajyothi
Om swastyastu,
Teriring doa keselamatan untuk semua mahluk.

Jalan makna harafiahnya adalah akses untuk menuju. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong teknik kontruksi jalan semakin baik. Aspal pada jalan tol, sebagai misal, seperti melangkah tanpa sedikitpun kerikil, nyaman dan damai. Setiap titik jalan memiliki rambu rambu. Dewasa ini melalui daring, pengemudi tidak akan pernah tersesat, karena ada navigasi digital yang disediakan di media sosial. Hidup manusia menjadi lebih mudah namun terbelengu dan terikat, bahkan ketergantungan. Semua itu kisah yang bersifat fisik (sekala). Bagaimana dengan jalan spiritual yang bersifat rohani (niskala)?

Pandangan rohani atau spiritual harus dimulai dari diri sendiri,melalui jalan yang dipilih (Catur Marga dan Catur Yoga). Jalan spiritual sangat beragam, seseorang boleh menekuni sesuai rasa dan niatnya serta pedoman dan guru (adikara). Memahami diri sendiri dimulai dari pertanyaan sederhana: “Aku dari mana?” Penggalian dari pertanyaan ini mengharuskan seseorang menjadi peneliti, yaitu meneliti diri sendiri. Meneliti diri sendiri bermakna penggalian batin, penggalian kesadaran (atmajanam), untuk tiba pada pemahaman jnanam (tentang Yang Maha Utama) dan wijnanam (ilmu untuk memahami pengetahuan).

Karena itu tujuan akhir seseorang dalam belajar Weda (Brahma Widya) adalah untuk menemukan dirinya sendiri, Sang Diri Sejati. Badan adalah tempat bersemayamnya Tuhan. Kesadaran ini mendorong seseorang itu memiliki cinta kasih tanpa batas. Cinta kasih kepada Tuhan. Tuhan tidak dapat menolak cinta kasih pemujaNya. Umat Hindu sangat beruntung, karena dikarunia anugrah pedoman hidup agar selalu mengingat Tuhan. Mengingat Tuhan boleh lewat ciptaanNya, dewa-dewa dan leluhur. Bila setiap altivitas lahir batin dilandasi pada ingatan yang kuat pada Tuhan, keselamatan sudah pasti. Namun ada hal yang lebih utama, mencapai pelanetNya (brhmaloka, waikuntha, siwaloka).

Tubuh ini seperti lumpur di dalam gelas, airnya adalah pikiran yang selalu begolak. Semakin bergolak pikiran air semakin keruh dan lumpur menyatu dengan keruh. Dibutuhkan waktu yang cukup untuk proses penjernihan. Dibutuhkan ketenangan, tanpa gejolak secara perlahan lahan. Puncak dari penjernihan adalah hening. Pada saat hening (samadhi), Tuhan akan menampakkan diriNya yang Agung.

Karena itu, umat Hindu telah menyebut dan mengingat nama Tuhan setiap saat (naimithika yajna, nitya kala yajna). Dengan melibatkan Tuhan, segela masalah telah berpindah kepadaNya. Yudistira sang dharma, tidak ingin diketahui oleh Sri Krishna bahwa mereka sedang berjudi. Yudistira malu kepada dirinya sendiri ia telah berjudi, terlebih kepada Tuhan maka ia tidak memberi tahu Sri Krihna.

Tuhan mengetahui segalanya, apa yang dipikirkan dan apa yang tidak dipikirkan. Karena Yudistira tidak memohon karunia dan diam membisu maka kehancuran diterimanya. Dewi Drupadi yang suci kekasih Tuhan, memohon pelindungan, kasih Tuhan tiba dengan sari yang tiada pernah habis. Tuhan telah membalas cinta kasih Dewi Drupadi ketika merobek sarinya )sebagai persembahan) untuk paduka Sri Krishna ketika melentikkan Cakra Sudarsana untuk membunuh Raja Cedi Sisupala. Adalah wajib bagi umat Hindu selalu menyebut dan mechantingkan nama Tuhan, untuk keselamatan diri sendiri dan alam semestha.

Dalam Pustaka Suci Bhagawad Gita VIII.7 dapat kita temukan tuntunan:
Tasmāt sarveṣu kāleṣu mām anusmara yudhya ca mayy arpita-mano-buddhir mām evaiṣyasy asaṁśayaḥ” Artinya: “Karena itu, kapan saja ingatlah kepadaKu selalu, dan berjuanglah terus maju, dengan pikiran dan pengertian tetap padaKu, engkau pasti akan sampai kepadaKu”

Tuhan telah berjanji, siapapun yang mengingatNya, akan tiba padaNya. Kalimat ini mengandung makna lahiriah dan batniah. Secara lahir dalam kehidupa ini seseorang akan berjalan di jalan dharma, kebenaran sejati, yang mengantarkan pada kebahagian. Secara batiniah, pahala dari perbuatan baik akan menempatkannya paa pelent ruang yang bagus (brahmaloka, waikuntha atau siwaloka), sebelum lahir kembali ke dunia dengan wujud yang lebih baik atau mungkin abadi menyatu denganNya (moksa).

Ketika Praladha disiksa oleh ayahnya Hiranyakasipu (raja Asura yang perkasa) karena terus menerus memuja Sri Wisnu, Praladha tidak merasakan sakit atau mati ketika dinjak gajah. Ribuan gajah yang menginjak injaknya tidak membuatnya menderita rasa sakit. Dengan menyebut nama Tuhan dengan penuh cinta kasih dan kerinduan yang mendalam, Tuhan telah mengambil alih derita Praladha. Teruslah chantingkan nama Tuhan, mulai dari memuja leluhur dan ista dewata agar menemukan kebahagian hidup.
Semoga semua mahluk berbahagia.

Om Santih Santih Santih Om.
Kendari, 13092020/5.13
Unaaha, 13 September 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar